Review DreadOut 2

Review DreadOut 2: Seru Sih, Tapi Banyak Kekurangan

Events Game Konsol News PC Reviews

Pada tanggal 20 Februari 2020 kemarin, hari yang dinantikan para penggemar game horror akhirnya tiba. DreadOut 2, sekual dari game horror lokal buatan Bandung akhirnya rilis dengan harga yang cukup terjangkau di Indonesia.

Seperti yang telah dijanjikan dari awal oleh Digital Happines, DreadOut 2 hadir dengan banyak pembaharuan di dalamnya, mulai dari faktor eksplorasi yang lebih luas dan elemen horror lokal yang semakin mencekam. Hal tersebut tentunya disambut meriah bagi penggemar seri pertama DreadOut, baik dari Indonesia maupun mancanegara.

Lantas sebagai sebuah sekuel, apakah game ini berhasil menjawab keinginan dan harapan para gamer di dunia? Apakah seri kedua ini layak untuk kalian beli? Berikut kami sudah merangkum review game DreadOut 2 di bawah ini. Cuss langsung saja!

Review DreadOut 2

1. Lanjutan Seri Pertama dengan Elemen Horror Luar Negeri

DreadOut 2 sendiri merupakan lanjutan dari game pertama di mana pemain masih berperan sebagai seorang siswi sekolah bernama Linda Melinda dalam upayanya menghadapi berbagai makhluk supranatural yang jahat. Sejak kejadian meninggalnya teman-teman sekolahnya di seri pertama, Linda masih dihantui rasa bersalah pada dirinya. Selain itu, pertemuannya kembali dengan tokoh jahat di seri pertama, ibu Siska membuat kehidupannya semakin rumit.

Tak Cuma itu, Linda juga harus berhadapan dengan kenangan buruk masa kecilnya di seri kedua ini. lantas apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ibu Siska tiba-tiba nongol? Dan siapa sebenarnya wanita misterius dengan pakaian serba hitam itu? Semua bisa terjawab jika kalian membeli DreadOut 2 ini.

Yang membuat nama DreadOut dari dulu dikenal adala unsur horror Indonesia yang begitu kental. Kita bisa melihat berbagai ritual aneh khas Indonesia, hantu, dan latar dunia yang sangat terasa lokal sekali. Khusus untuk hantu, sama seperti di seri pertama, kita juga bakal menjumpai beragam makhluk supranatural khas Indonesia namun dengan sedikit polesan seperti Buto Ijo, Kuyang, Kuntilmamak, dan Copong.

Pada seri kedua ini, Digital Happiness melaukan lompatan menarik dengan memadukan unsur horror lokal tadi dengan berbagai karakter hantu luar negeri. Di sini, kita akan melihat makhluk supranatural yang terinpirasi dari game horror lain misalnya saja musuh bernama Deadlings, The Gore Surgeon yang mirip dengan musuh di salah satu game Outlas, dan masih banyak lagi.

Semua perpaduan elemen horror “lintas negara” ini diracik dengan sangat matang dan seimbang. Tidak ada yang tumpang tindih satu sama lain karena memang masing-masing dirasa cukup sesuai dengan porsinya. Kami menganggap perpaduan ini menandakan bahwa secara ide, Digital Happiness memang sudah cukup matang dan berani untuk mengambil resiko dengan hal-hal baru.

2. Elemen Open World dengan Beragam Konten

Inovasi lainnya yang juga bakal kalian temui disini adalah penyajian dunianya yang lebih terbuka. Tak sekedar terkurung di area yang berbau hutan atau gedung kosong mengerikan saja, Digital Happiness justru memasukkan mekanisme eksplorasi semi open world yang unik dan menarik di landscape perkotaan yang sangat terasa lokal sekali. Ya, kita bisa menjelajahi berbagai tempat yang ada ketika misi utama belum dimulai.

Misalnya saja kita bisa kesana-kemari di bagian kota bernama Maung Distrik untuk mencari informasi seputar urban legends atau sekedar menyelesaikan misi sampingan. Itu semua bisa dilakukan dan kalian yang suka dengan eksplorasi tentu akan senang menjumpai hal semacam ini. Tak hanya itu saja, di DreadOut 2 juga terdapat cukup banyak rahasia yang harus kita pecahkan sehingga membuat konten game ini semakin seru dan menarik.

Rahasia-rahasia ini bisa memberikan kita beberapa reward misalnya saja lokai eksplorasi baru atau sekedar petunjuk mengenai makhluk-makhluk mitos urban legends tadi. Yang patut diacungi jempol di sini adalah desain dunia yang sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia. Contohnya adalah di Maung Distrik kita bisa melihat pedagang kaki lima, tukang pecel, atau popularitas Ojek Online yang juga sedang naik daun. Semua cita rasa lokal ini bisa kalian temukan dalam setiap jengkal lokasi di DreadOut 2.

Selain reward, konten yang dihadirkan di game ini adalah penambahan beberapa puzzle yang cukup mudah namun tetap menantang dari sisi yang lain. Ada cukup banyak puzzle yang harus diselesaikan untuk melanjutkan perjalanan. Demi menyelesaikan puzzle, tentunya pemain harus melakukan eksplorasi yang terkadang akan menjadi sangat menantang karena keberadaan hantu yang meneror kita.

Tentu banyaknya konten yang bisa ditemukan di dunia semi open world ini membuat game ini layak diapresiasi sebagai suguhan game horror AAA berkualitas.

Oh iya satu lagi, DreadOut 2 juga masih mempertahankan berbagai lelucon lama mereka seperti parody dari beberapa merk terkenal yang beredari di Indonesia atau jokes yang dilemparkan beberapa NPC. Sebagai contoh, ada satu momen ketika Linda muncul di rumah sakit dengan kondisi berlumuran darah. Di situ ada salah satu pegawai rumah sakit yang melihat. Jika kita mendekati dia, maka dia bakal kaget, menjauh, dan akhirnya pingsan. Jokes seperti ini cukup mampu membuat hati para gamer menjadi senang, setelah dikagetkan dan diteror habis-habisan oleh hantu saat berpetualang.

3. Terinspirasi dari Berbagai Game Horror Berkualitas

Jika kita membicarakan DreadOut pertama kembali, tentu kita akan menemukan segelintir kemiripan gameplay dengan Fatal Frame, game horror buatan Tecmo yang sayangnya kini sudah hampir terlupakan. Untuk seri kedua kali ini, Digital Happiness kembali mencoba meleburkan berbagai elemen game horror lainnya seperti Outlast, Silent Hill, dan The Evil Within.

Untungnya, upaya ini berhasil mereka eksekusi dengan baik lewat keunikan tema yang mereka punya. Kita bisa melihat bahwa ide idistorsi dunia nyata dengan gaib dan pergeseran chapter sangatlah mirip dengan The Evil Within. Pada satu bagian, bisa melihat salah satu boss di Act 2 dan kejar-mengejar musuh yang memaksa Linda harus bersembunyi di samping mayat, di tumpukan daging, atau sebagainya, bak salah satu momen dalam Outlast.

Namun meskipun terinspirasi dari berbagai game horror berkualitas, game ini masih mampu memberikan ciri khasnya. Ciri khasnya ada pada pemisah jenis pertarungan yang bakal dijalani oleh Linda. Ya, meskipun kalian bisa menghabisi musuh dengan dua cara yaitu senjata melee dan IrisPhone, namun itu semua tak pernah bisa dilakukan bersamaan. Anehkan? Tidak juga, faktor keterbatasan inilah yang membuat pemain berada di posisi yang rentang sehingga terbawa dengan suasana teror yang terdapat di DreadOut 2.

4. Sayangnya Masih Banyak Kekurangan

Membuat sebuah maha karya yang minim masalah adalah dambaan semua pengembang termasuk Digital Happiness. Meski sudah cukup baik dari berbagai sisi dan juga adanya improvisasi untuk membuat seri kedua lebih superior, namun DreadOut 2 tak bisa lepas dari beberapa masalah bahkan masalah ini cukup bisa dirasakan sampai review DreadOut 2 ini dibuat.

Pertama, masalah yang bisa ditemukan adalah tidak konsistennya bahasa yang digunakan oleh NPC di game ini. Jika kalian mengobrol, kalian terkadang akan mendengarkan NPC akan menggunakan bahasa Indonesia, namun nanti, NPC lain bakal menggunakan bahasa Sunda, dan NPC lainnya bakal menggunakan bahasa Inggris. Ketidak konsisten mengenai bahasa ini semakin diperparah dengan voice act NPC yang tidak keluar atau hanya separuh saja.

Misalnya pembicaraan panjang, voice act yang keluar hanya di awal saja setelahnya suara hilang dan kita justru diberikan terks tanpa suara saja. Ini tentu membuat percakapan mejadi hal yang membosankan dan tidak greget sama sekali.

Kedua, masalah mengenai Gamepad dan Keyborad + Mouse. Yaps, kebetulan, PC kami terpasang Gamepad dan Keyboard + Mouse, namun ketika bermain, akses yang terbaca hanya lewat Gamepad saja. Padahal di game lain, jika kita menyentuh Mouse atau Keyboard, akses akan langsung berganti dan pointer untuk memilih pilihan akan muncul. Selain itu, di tutorial, tombol yang akan muncul adalah yang sesuai dengan pilihan Keyboard + Mouse.

Tapi di DreadOut 2 ini, yang terbaca hanyalah Gamepad saja. Selama Gamepad terpasang ke PC, tidak ada pergantian otomatis ke Keyboard + Mouse yang membuat kami harus mencabut dulu Gamepad agar akses berganti ke Keyboard + Mouse dan pointer pilihan muncul. Memang ini hal minor, tapi jika bisa diperbaiki, kenapa tidak?

Ketiga, masalah pada beberapa hal yang tak masuk akal yang terjadi di game ini seperti jika kita melintas di tengah jalan, maka pengendara motor yang lewat tidak berhenti dan justru akan menabrak kita begitu saja. Selain itu juga, ada momen di mana Linda bebas ke mana saja dengan baju yang berlumuran darah bahkan hingga keliling kota tanpa menimbulkan reaksi dari orang di sekitarnya!

Detail minim yang dirasa kurang seperti ini memang terkadang perlu digalih lebih dalam lagi untuk menjaga logika dalam sebuah game. Meski bukan hal yang urgent, bila bisa diselesaikan dengan lebih detail akan membuat DreadOut 2 semakin berkualitas.

Masih soal tak masuk akal, kami cukup menyayangkan dengan desain karakter Linda yang terlampau cukup seksi dan bahenol untuk seumuran anak SMA. Padahal akan lebih sopan jika Linda dipoles agak mature sedikit dan matang dengan pakaian casual atau jika ingin tetap mempertahankan seragam sekolah, bisa dibuat yang tak begitu menonjolkan lekuk tubuh terlalu frontal dengan baju yang sewajarnya. Karena kami percaya, kualitas dari game ini tidak akan sinar, walau Linda tak seksi lagi, bukan?

Nah, untuk kekurangan yang terakhir adalah segi cerita yang membingungkan mau dibawa ke arah mana. Ya, perpindahan atau pengembangan jalan cerita di game ini masih harus diakui sedikit rancu. Banyak kejadian yang datang secara tiba-tiba yang membuat kita bertanya-tanya dan terkesan dipaksakan.

Kesimpulan

DreadOut 2 bisa dibilang merupakan salah satu maha karya horror yang sangat menarik untuk kalian mainkan di tahun 2021 ini. game tersebut memiliki berbagai hal baru dan menarik yang bisa memuaskan dahaga kalian khususnya bagi gamer yang ingin game horror berkualitas asli Indonesia.

Konsep aksi dan open world juga harus diacungi jempol karena berhasil digarap dengan baik oleh Digital Happiness. Selain itu, candaan mengenai merk-merk Indonesia dan berbagai plesetan menarik bisa membuat kalian cengar-cengir sendiri ketika memainkannya. Konten-konten yang disuguhkan dan misi sampingan yang ada juga cukup mantap sehingga waktu kalian bakal disibukkan untuk menyelesaikan berbagai misi sampingan dan konten yang tersebar.

Namun sayangnya, game ini tak lepas dari berbagai kekurangan mulai dari voice act yang terkadang tidak sinkron, hingga bahasa yang campur aduk membuatnya menjadi inkonsisten.

Dengan harga yang mencapai kisaran Rp109 ribuan, DreadOut 2 masih terbilang layak untuk menjadi game yang wajib masuk ke whislist kalian. Apalagi ada kesan gabungan dari berbagai game horror yang ada di DreadOut 2 membuat game ini semakin seru dan menantang untuk ditamatkan.

Nah, demikianlah sobat Gamerz, mengenai review Dreadout 2 ini. Semoga saja artikel ini bermanfaat dan tidak membosankan. Jangan lupa kunjungi terus Gamezero.id agar tidak ketinggalan berita menarik lainnya seputar dunia games, gadget, anime, manga, teknologi, dan lain-lain.